KARYA TARI LITUTU MENYUSUR ENERGI TUBUH MANUSIA

 

KARYA TARI LITUTU MENYUSUR ENERGI TUBUH MANUSIA

LITUTU sebuah karya tari yang berlatar belakang budaya Lampung Utara, hadir secara live di Studio Hanafi, Depok Jawa Barat. Pertunjukan ini merupakan bagian dari program Indonesia Dance Festival yang berlangsung sejak tanggal 7 – 14 November 2020. 

Pertunjukan karya tari LITUTU ini merupakan salah satu karya kontemporer. Ditampilkan secara live di depan public tari Indonesia Dance Festival 2020. Hal itu sedikit menimbulkan pertanyaan. Kenapa karya tari ini tampil langsung di depan penonton, sementara situasi pandemic Covid 19 masih menghantui kita semua.

Hal tersebut bukan tanpa alasan. Belakangan diketahui bahwa ini merupakan pertimbangan artistic karya yang menuntut kehadiran penonton secara langsung. Menurut Ayu Permata Sari koreografer karya tari LITUTU ini mengatakan, kehadiran penonton sangat penting karena merupakan energy yang tidak terpisahkan dengan karya ini.

Pertunjukan karya LITUTU sore itu dimulai pukul 16.30 WIB. Areal pertunjukan mengambil lokasi di halaman Studio Hanafi. Sebuah studio megah yang berada di pinggir kali dan berhadapan langsung dengan jalan utama. Sehingga setiap mereka yang melewati areal pertunjukan karya tari LITUTU saat itu dapat menyaksikan semua peristiwa karya yang sedang berlangsung. Sungguh menjadi pemandangan mengasyikkan. Karya LITUTU menjadi tontonan yang melebur dengan semua peristiwa alam lingkungan. Hal tersebut juga merupakan bagian dari konsep karya LITUTU.

Setiap peristiwa yang dihadirkan pada karya LITUTU tanpa disadari menyatu dengan semua bunyi-bunyian yang ada di areal sekitar. Termasuk bunyi mesin kendaraan  yang melintas. Bahkan ada diantara mereka yang berkendara sengaja berhenti persis di areal pertunjukan dangan mesin kendaraan mereka masih menyala. Suasana itu tentu semakin membuat gaduh suasana. Namun, kegaduhan bunyi-bunyi mesin kendaraan tersebut justru mencipta energy yang menjadikan karya LITUTU terasa semakin masuk pada energy alam lingkungan. Mengajak kita untuk selalu berfikir akan setiap peristiwa alam yang terjadi.

Tiga penari, termasuk Ayu Permata Sari diantara mereka bertiga, terus menarik perhatian kita yang menonton. Gerak-gerak piring yang dilempar beulang-ulang dari tangan Ayu ke tangan Galih seorang penari laki-laki berbadan tegap, mencipta intensitas tinggi antara mereka berdua. Gerak repetisi sepanjang durasi karya ini terlihat sederhana, akan tetapi makin lama terlihat menguras energy meraka. Di samping itu pula, memperkuat keingin tahuan penonton akan peristiwa dan makna piring yang dilempar dengan cara berulang-ulang itu. 

Tidak hanya adegan melempar piring itu saja yang menjadi pusat perhatian, akan tetapi juga sikap badan, titik focus pandangan mata yang menyiratkan konsentrasi tinggi diantara mereka untuk selalu siap menangkap piring yang dilempar dari tangan yang melempar ataupun sebaliknya.

Konsesntrasi mereka harus terjaga dengan baik, apabila tidak piring akan jatuh dan pecah berderai di lantai. Kejadian piring jatuh dan pecah terjadi beberapa kali pada pertunjukan tari ini. Hal itu memecah susana hening penonton, sekaligus bunyi pecahan piring yang jatuh ke lantai saat itu, menyiratkan peristiwa sebab akibat. Dimana ketika sebuah peristiwa terjadi dan tidak dapat dihindari pasti disebabkan oleh sesuatu yang tidak dapat dihindari. Sehingga peristiwa itu harus diterima sebagai  hal yang memang harus terjadi dan diterima dengan ihklas.

Indikasi itu ditunjukkan dalam tarian ini. Penari seperti tidak menunjukkan reaksi apa-apa ketika terjadi piring jatuh dan pecah. Mereka membiarkan semua itu, dan mengambail piring pengganti yang telah disiapkan disekitar areal panggung.

Yang menarik dari peristiwa itu adalah interaksi, dialog bathin ketika mereka akan melempar dan menangkap piring. Mereka berdua seperti berdialog tanpa kata. Berfikir, membaca situasi sebelum gerak-gerak mereka lanjutkan. Interaksi tersebut membuat kekuatan tari LITUTU semakin terasa. Menunjukkan karya tari LITUTU bukan karya biasa. Akan tetapi sebuah karya yang menuntut kekuatan energy tubuh penari secara totol tidak hanya mengandalkan kemampuan fisik saja. Bagi kita yang menonton dibiarkan untuk memaknai semua peristiwa itu.

Ketika dua penari sedang terlibat dalam berbagai peristiwa pengulangan dengan permainan piringnya, Dinda satu orang penari perempuan lainnya, berjalan melingkar di atas piring yang diletakkan di atas meja. Sambil membawa alat music rebana di tangan kiri dan piring kecil dengan lilin menyala di genggaman tangan kanannya, Dinda  terus berjalan melingkar ke arah kiri dengan tempo gerak langkah pelan dan sangat berhati-hati. Hal itu tentu menguras energy tubuhnya yang semakin lama terlihat semakin berkeringat.

Intensitas perputaran yang ia lakukan dengan tatapan mata penuh hikmat, mencuatkan rasa kagum sekaligus menarik imaji kita untuk mengikuti langkah demi langkah kakinya yang terus menapaki permukaan piring beling berwarna putih, yang biasa digunakan dalam tarian tradisi Minangkabau. Akan tetapi ukuran piring yang diinjak tersebut sedikit lebih besar.

Peristiwa perputaran dengan intensitas lambat yang diperankan Dinda tersebut, memunculkan suasana yang sangat bertolak belakang dengan dua penari lainnya. Perbedaan itu seperti menjadi dua energy yang menyatu dalam perspektif yang sama melihat posisi anak perempuan pertama suku Sumendo Lampung Utara yang berperan dalam mengatur dan menjaga harta pusaka keluarga. Latar belakang persoalan inilah yang memancing kegelisahan Ayu, dan mengangkatnya ke dalam karya LITUTU.

 

Penulis : Benny Krisnawardi

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIODATA SINGKAT BENNY KRISNAWARDI