KARYA TARI LITUTU MENYUSUR ENERGI TUBUH MANUSIA
KARYA TARI LITUTU MENYUSUR ENERGI
TUBUH MANUSIA
Pertunjukan karya tari LITUTU ini
merupakan salah satu karya kontemporer. Ditampilkan secara live di depan public
tari Indonesia Dance Festival 2020. Hal itu sedikit menimbulkan pertanyaan. Kenapa
karya tari ini tampil langsung di depan penonton, sementara situasi pandemic Covid
19 masih menghantui kita semua.
Hal tersebut bukan tanpa alasan.
Belakangan diketahui bahwa ini merupakan pertimbangan artistic karya yang
menuntut kehadiran penonton secara langsung. Menurut Ayu Permata Sari
koreografer karya tari LITUTU ini mengatakan, kehadiran penonton sangat penting
karena merupakan energy yang tidak terpisahkan dengan karya ini.
Pertunjukan karya LITUTU sore itu
dimulai pukul 16.30 WIB. Areal pertunjukan mengambil lokasi di halaman Studio
Hanafi. Sebuah studio megah yang berada di pinggir kali dan berhadapan langsung
dengan jalan utama. Sehingga setiap mereka yang melewati areal pertunjukan
karya tari LITUTU saat itu dapat menyaksikan semua peristiwa karya yang sedang
berlangsung. Sungguh menjadi pemandangan mengasyikkan. Karya LITUTU menjadi
tontonan yang melebur dengan semua peristiwa alam lingkungan. Hal tersebut juga
merupakan bagian dari konsep karya LITUTU.
Tiga penari, termasuk Ayu Permata
Sari diantara mereka bertiga, terus menarik perhatian kita yang menonton.
Gerak-gerak piring yang dilempar beulang-ulang dari tangan Ayu ke tangan Galih
seorang penari laki-laki berbadan tegap, mencipta intensitas tinggi antara
mereka berdua. Gerak repetisi sepanjang durasi karya ini terlihat sederhana,
akan tetapi makin lama terlihat menguras energy meraka. Di samping itu pula,
memperkuat keingin tahuan penonton akan peristiwa dan makna piring yang
dilempar dengan cara berulang-ulang itu.
Tidak hanya adegan melempar
piring itu saja yang menjadi pusat perhatian, akan tetapi juga sikap badan,
titik focus pandangan mata yang menyiratkan konsentrasi tinggi diantara mereka
untuk selalu siap menangkap piring yang dilempar dari tangan yang melempar
ataupun sebaliknya.
Indikasi itu ditunjukkan dalam
tarian ini. Penari seperti tidak menunjukkan reaksi apa-apa ketika terjadi
piring jatuh dan pecah. Mereka membiarkan semua itu, dan mengambail piring
pengganti yang telah disiapkan disekitar areal panggung.
Yang menarik dari peristiwa itu
adalah interaksi, dialog bathin ketika mereka akan melempar dan menangkap
piring. Mereka berdua seperti berdialog tanpa kata. Berfikir, membaca situasi
sebelum gerak-gerak mereka lanjutkan. Interaksi tersebut membuat kekuatan tari
LITUTU semakin terasa. Menunjukkan karya tari LITUTU bukan karya biasa. Akan
tetapi sebuah karya yang menuntut kekuatan energy tubuh penari secara totol
tidak hanya mengandalkan kemampuan fisik saja. Bagi kita yang menonton dibiarkan
untuk memaknai semua peristiwa itu.
Intensitas perputaran yang ia
lakukan dengan tatapan mata penuh hikmat, mencuatkan rasa kagum sekaligus menarik
imaji kita untuk mengikuti langkah demi langkah kakinya yang terus menapaki permukaan
piring beling berwarna putih, yang biasa digunakan dalam tarian tradisi
Minangkabau. Akan tetapi ukuran piring yang diinjak tersebut sedikit lebih
besar.
Peristiwa perputaran dengan
intensitas lambat yang diperankan Dinda tersebut, memunculkan suasana yang
sangat bertolak belakang dengan dua penari lainnya. Perbedaan itu seperti menjadi
dua energy yang menyatu dalam perspektif yang sama melihat posisi anak
perempuan pertama suku Sumendo Lampung Utara yang berperan dalam mengatur dan
menjaga harta pusaka keluarga. Latar belakang persoalan inilah yang memancing
kegelisahan Ayu, dan mengangkatnya ke dalam karya LITUTU.
Penulis : Benny Krisnawardi




Komentar
Posting Komentar